Sepenggal Cerita

Memang benar kata orang kalau kita mau belajar, kita bisa belajar dari siapa saja. Kalau memang mau mengambil ibroh, kita bisa mengambil ibroh dari siapa saja.

Sore ini, terjadi obrolan singkat antara saya dan ibu saya. Obrolan santai, sembari ibu saya menggoreng kerupuk saya duduk menemani beliau di dapur. Jangan tanya “di Arab ada kerupuk juga emang Tan?” Isi koper kami sekeluarga penuh dengan bahan makanan; cabe, rendang, kerupuk, dan kawan kawan bahkan beras, jadi jangan heran.

Ibu saya memulai obrolan singkat sore ini “ Intan, umi udah ceritain belum tentang mak uwo waktu pergi umroh kemarin?”

Merasa belum pernah mendengar cerita apapun tentang itu, saya menjawab “yang mana mi?”

Ibu saya pun memulai cerita,

Sebutlah Mak uwo saya ini bernama Ibu Fatimah, beliau punya beberapa orang anak yang sebagian besarnya anak lelaki. Salah satu di antaranya bernama sebut sajalah Abdullah. Abdullah ini dulunya pernah tinggal bersama kami, waktu saya kecil. Lumayan lama, walaupun tak ada yang saya ingat dengan sangat jelas selain Abdullah yang jauh lebih tua dari saya itu dulu pernah membuatkan saya sandwich yang waktu itu adalah makanan hebat di mata saya (hehehe). Bukan itu pointnya dan sandwich ini juga tak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang ingin saya sampaikan. > <

Suatu hari, Ibu Fatimah dan suami beliau berencana untuk melaksanakan ibadah umroh. Saat itu Saya senang sekali menyambut keluarga-keluarga saya itu di sini. Entahlah, ada rasa yang berbeda bertemu mereka di Kota Nabi padahal dulunya juga sering bertemu.

Melaksanakan ibadah umroh adalah angan dan impian besar bagi Ibu Fatimah, keluarga mereka sederhana, namun berwibawa. Anak anak beliau tumbuh besar dengan sukses, Abdullah kini bekerja sebagai PNS di Bukittinggi. Saya selalu senang melihat orang-orang seperti mereka. Mungkin tidak mudah bagi mereka untuk bertahan hidup, tapi mereka tak menyerah. Giat, tekun, saya benar benar suka pada orang orang seperti itu.

Ibu Fatimah beserta suami pergi bersama adik dari nenek saya, serta sepupu dari ibu saya. Oh ya, saat itu nenek, kakek, dan tante beserta paman saya juga sedang berlibur di Madinah. Kami kedatangan banyak tamu, Alhamdulillaah.

Hari pertama mereka datang, kami berjanji untuk saling bertemu di Masjid Nabawi. Saya pergi bersama ibu dan ayah saya, nenek, kakek, tante, serta paman saya. Setelah sholat zuhur, saya dan nenek saya beserta ibu dan tante saya berjalan ke meeting point yang sudah kami tentukan tadi, sebelum sholat. Tertangkap oleh mata saya, kakek saya sedang mengobrol indah dengan suami Ibu Fatimah, duduk di pelataran Mesjid Nabawi. Taukah anda wahai para pembaca yang saya hormati, ada perasaan bahagia yang membuat saya ingin menangis melihat pemandangan seperti itu. Seperti yang pernah tetangga saya katakan pada ayah saya beberapa waktu lalu ketika beliau datang untuk melaksanakan ibadah haji, beliau sholat di Mesjid Nabawi di samping ayah saya

“ Ya Allah pak , gak nyangka ya, dulu kita sering sholat sebelahan di Mesjid A (saya lupa nama mesjidnya) sekarang kita sholat sebelahan di Mesjid Nabawi ! “ 

Ya, itu juga yang saya pikirkan ketika melihat kakek saya sedang ngobrol cantik dengan suami Ibu Fatimah. Biasanya kita ketemu di kampung sekarang kita ketemu di Mesjid Nabi ! Alhamdulillah alladzi bini’matihi tatimmu assholihat.

Dari tadi sebenarnya saya belum menyinggung sedikitpun tentang sepenggal cerita sore bersama ibu saya tadi. Ini cerita tentang Abdullah dan ibunya. Sederhana, namun sukses membuat saya tersadar , mudah-mudahan juga bagi para pembaca sekalian.

Sebenarnya cerita ini juga sudah dinukil lagi oleh ibu saya dari adik nenek saya, yang saat umroh disekamarkan dengan Ibu Fatimah.

Adik dari nenek saya yang disekamarkan dengan Ibu Fatimah itu merasa bingung melihat Ibu Fatimah. Kenapa bingung? Sebab Ibu Fatimah tak tampak sama sekali seperti orang yang baru sekali pergi ke luar negri, tidur di hotel. Padahal adik dari nenek saya tau persis kalau ini kali pertamanya Ibu Fatimah pesiar ke luar ranah minang. Ibu Fatimah tau cara buka pintu kamar hotel ( yang kalau boleh jujur saya pun terkadang masih suka salah dan gagal hehe ), tau cara hidupin keran kamar mandi ( yang kalau boleh jujur lagi sayapun kadang masih sering kesiram sama shower atas karena gak hati-hati dan gak perhatian ), tau cara naik dan turun lift, dan lain lain yang mungkin bagi kita itu adalah hal hal sepele, yang bisa dicari di google atau nanya petugas hotel walaupun dengan bahasa inggris pas pasan, atau cara-cara lain. Tapi tak semudah itu bagi orang-orang dari kampung seperti Ibu Fatimah, beliau bisa saja tersasar ketika naik lift atau mungkin saja merusak fasilitas hotel karena tidak paham cara menggunakannya. Tapi Ibu Fatimah ini sudah langsung paham, sudah langsung lihai. Seakan akan ini sudah kali keberapa beliau tidur di hotel. Tentu saja menimbulkan tanda tanya bagi adik nenek saya itu. Sampai akhirnya beliau memutuskan untuk mengakhiri kebingungan-kebingungan itu, dan bertanya :

Na (nama asli Ibu Fatimah ) ba a kok Una alah pandai se naiak lift, pakai keran, masua an kunci di hotel ko “  read : “ Na, kok Una udah pandai aja naik lift, pakai keran, masukkan kunci ( di pintu kamar ) di hotel “

Akhirnya Ibu Fatimah menjawab, mengakhiri kebingungan adik nenek saya tersebut, membuat beliau kagum, kemudian menceritakannya ke ibu saya dan ibu saya setelah beberapa lama membuat saya tersadar betapa kecilnya saya dibanding mereka :

“ Iya, sebelum ke sini Abdullah udah ngajak tidur di hotel, untuk ngajarin gimana caranya tidur di hotel sama pakai fasilitas fasilitas hotel “

deg.

Saat itu saya malu.

Bagi Abdullah dan keluarga, tidur di hotel itu bukan perkara mudah tinggal gesek habis itu dapat kamar kualitas paling bagus. Tidak semudah itu. Mungkin perlu menabung untuk bisa tidur semalam saja di hotel. Tapi demi agar si ibu tidak kesulitan saat berada jauh dari dia, supaya si ibu tidak malu dan tidak panik sehingga bisa tenang beribadah, dia tanpa pikir panjang mengajarkan ibunya ‘cara tidur di hotel’ dengan mengajak ibunya nginap di hotel. Padahal bisa saja, kan lihat youtube atau sampaikan saja pada si ibu bagaimana cara-cara menggunakan fasilitas hotel. Tapi tidak tanggung-tanggung dia memilih untuk mengantar ibunya ke hotel dan mengajak ibunya nginap di sana.

Kita tak akan membicarakan berapa uang yang dihabiskannya untuk membeli kamar hotel atau waktunya yang diluangkannya untuk sang ibu padahal dia sudah beristri, beranak. Sudah jelas, itu wujud bakti yang saya acungkan jempol.

Yang lebih membuat saya kagum dan tersadar, orang-orang seperti Abdullah yang tak mengecap pendidikan agama sebanyak saya saja, bisa berbakti sebegitu hebatnya pada ibunya. Lalu, apa alasan saya untuk tidak sungguh-sungguh pada ibu saya kala berbakti?

Kemudian ibu saya bercerita tentang bakti-bakti lain yang Abdullah dan saudara-saudaranya berikan kepada ibu mereka. Masih banyak, tapi satu saja yang saya bagikan pada pembaca sekalian.

Mari berkaca, kawan.

Terkadang banyak ilmu yang kita punya malah membuat kita semakin jauh dari orang tua kita. Semakin congkak, semakin pongah.

Padahal seharusnya ilmu-ilmu itu membuat kita semakin sadar bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Ibu itu pintu surga. Bersyukurlah bagi yang masih mendengar suruhan-suruhan ibu mereka. Karena itu adalah suara-suara menuju surga, apabila kita dengan ikhlas memenuhinya.

Terkadang banyaknya ilmu membuat kita lupa, bahwa doa ibu  adalah sebab yang dapat menentukan siapa kita. Doa beliau yang tulus di sepertiga malam terakhir bahkan bisa merubah hal-hal yang terasa sulit menjadi sangat mudah. Itu nyata, bukan dongeng.

Jadikan ibu orang pertama yang kita pikirkan ketika ingin berkhidmat pada manusia. Karena memang ibulah orang yang paling berhak menerima khidmat kita.

Satu-satunya komunikasi yang tidak boleh putus, apapun keadaannya, adalah komunikasi dengan orang tua. Sejauh apapun kita, sesibuk apapun kita. Tanyakan kabar mereka, tanyakan apa makan malam mereka, tanyakan cuaca di tempat mereka tinggal, tanyakan saja hal-hal seperti itu. Mereka akan sangat senang, mereka akan menangis haru, bila tau anak mereka tak melupakan mereka di hari tua. Mereka mencemaskan kita setiap detiknya, kita, lebih harus sebenarnya untuk cemas. Tapi, itulah manusia, terkadang kurang bisa melihat mana yang lebih penting mana yang penting. Kerja mati-matian itu penting, belajar sampai tumbang juga penting. Tapi menelpon orang tua dan bertanya kabar keduanya itu lebih penting lagi, jadi jangan suka tertipu.

Semoga Allah senantiasa menjaga Ibu dan Ayah kita semua, memberikan mereka rahmat dan keberkahan di manapun mereka berada serta memudahkan jalan kita untuk selalu berbakti pada mereka, baik selama mereka hidup ataupun setelah mereka tiada. AMIN

 

Madinah Al-Munawwarah

23 Dzulqo’dah 1439 H / 5 Agustus 2018

Iklan

Jangan Merasa Aman

(mencoba menjawab pertanyaan ; si Fulan maksiatnya banyak, tapi hidupnya enak enak aja )

Jangan merasa aman kalau setelah mengerjakan dosa, Allah tidak tegur. Jangan juga merasa aman kalau setelah melakukan maksiat tidak ada musibah yang datang. Atau merasa terjamin begitu saja kalau istighfar dosanya pasti hilang. Emang, siapa yang jamin?

Karena sebenarnya, maksiat yang mengundang maksiat lain itu adalah bentuk azab dari Allah. Maksudnya? Ya, kalau misalnya si A melakukan maksiat 1, mendengarkan musik misalnya, kemudian melakukan maksiat 2, mendengarkan musik lagi + nonton film2 yang mamerin aurat yang gak seharusnya diliat, terus melakukan maksiat 3 maksiat 4 maksiat 5 begitu seterusnya, tapi hidupnya tetap enak, adem ayem, duit masih ngalir aja, keluarga semua sehat wal ‘afiyat, pendidikan dan urusan pasangan lancar selancar jalanan Jakarta kalau lagi ‘idul fitri, perlu disadari kalau itu adalah bentuk akibat terburuk dan termengerikan dari melakukan sebuah maksiat, terseretnya maksiat maksiat lain akibat dari maksiat pertama yg dilakukannya tadi.

Singkatnya, hukuman dari sebuah maksiat itu sebenarnya adalah maksiat selanjutnya, sebagaimana hadiah dan ganjaran dari sebuah ibadah adalah ibadah selanjutnya.

Jadi, kalau ada seseorang yang berbuat maksiat setelah itu Allah kasih dia cobaan atau ujian karena maksiat dia tersebut, menyadarkan dia untuk bertaubat dari maksiatnya maka orang itu harus bersyukur sebanyak banyaknya walaupun mungkin ujian yang Allah kasih terasa berat, tapi itu akan jadi lebih baik daripada Allah biarkan dia ada di lubang maksiat yang super duper mengerikan.

Sebaliknya, kalau ada orang yang beribadah, sholat misalnya, tapi habis sholat masih apel sama lawan jenis, dia harusnya waspada dan bertanya-tanya ‘apa ibadah sholat saya diterima sama Allah atau gak?’ karena seharusnya ibadah itu akan mengundang ibadah-ibadah lainnya, bukan stuck di situ aja. Kalau sholat jalan, maksiat juga jalan, berarti ada yang harus dipertanyakan dengan sholatnya.

Allah juga sudah ingatkan di dalam Alquran kalau orang yang berbuat maksiat akan dihukum dengan maksiat yang selanjutnya, di surat Al-Baqoroh ayat 10 :

{ في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا و لهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون }

{ di dalam hati – hati mereka ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit itu di hati mereka dan bagi mereka adzab yang pedih karena apa – apa yang mereka lakukan }

Jadi, jangan merasa aman kalau berbuat maksiat tapi masih dapat nilai 100 waktu ujian, hm,  habis itu dengan santainya bilang “maksiatnya gak ngaruh kok ke nilai ujian”. Itu omong kosong orang-orang yang gak paham hakikat dosa. Karena dosa dosa selanjutnya yang dia kerjakan sambil ‘merasa aman’ itulah sebenarnya hukuman yang Allah turunkan buat dia !

Madinah Al-Munawwarah

20 Dzulqo’dah 1439 H / 2 Agustus 2018 M

Kenangan dan Cara Curhat Paling Elegan

DZIKROYAT

Satu hal yang tidak saya sukai dari menulis adalah bagaimana orang orang dapat mengira ngira orang seperti apa saya ini lalu menyimpulkannya sendiri dengan maklumat sederhana yg tidak tersurat dalam tulisan saya kemudian menilai seenak mereka. Bukan salah mereka. Karena tulisan memang terkadang bisa menjadi jelmaan kepribadian seseorang. Walau kadang juga, bahkan sering, dapat menipu.

Namun bagian indahnya adalah bagaimana saya juga dapat menceritakan mereka mereka yg saya lihat tanpa menyinggung mereka sama sekali. Menginterpretasikan keadaan dalam bentuk yg lebih nyata, detail, membuat yang bahkan tak pernah melihatnya dapat menceritakan lagi seakan mereka pernah melihat.

Banyak cara manusia menyimpan dan merekam kenangan. Dan itu penting. Karena manusia tak punya kuasa untuk kembali pada memoar masa lalu untuk dilihat lihat kemudian diceritakan pada anak cucu. Sekali kita lupa, maka habislah sudah kesempatan. Kejadian-kejadian indah di masa lampau itu hanya akan ‘menuh menuhin’ kepala saja, tersimpan namun tak dapat diingat. Bukan untuk mengulik dan mengulang dan tersangkut di masa lalu guna menyimpan kenangan. Tapi bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dan tidak jatuh dalam lubang yang serupa. Bak kata orang, mereka yang tak mau belajar dari sejarah akan mengulang sejarah itu, lagi.

Ada yang menyimpan kenangan mereka dalam bentuk gambar yg mana gambar itu akan melahirkan sejuta persepsi manusia, misterius dengan banyak sudut pandang bagaimana kita memahami gambar tersebut.

Ada pula yg menulisnya, menjelaskan secara rinci atau boleh saja dengan abstrak dan tak dapat ditebak, penafsirannya juga diserahkan pada para pembaca-pembaca yang in sya Allah budiman.

Tapi tetap, kenangan yang tersimpan dalam gambar atau tulisan tadi, hanya si pembuat seni itu yang tau, yang mengerti. Indah bukan? Orang lain dapat menikmatinya dan merelasikannya dengan hidupnya sendiri. Tapi apa yang dimaksud oleh tulisan tadi, misalnya, tetap jadi rahasia, cuma penulisnya yang tau.

Itulah cara terbaik mengungkapkan perasaan tanpa memikirkan apa kata orang nanti, apa pikir orang nanti. Atau kita katakan sajalah, “curhat yang elegan” Menurut saya.

Simpanlah kenangan,
Buatlah pembaruan,
Jangan sia siakan kesempatan,
Agar nanti dalam hidup tak ada lagi penyesalan

 

Madinah Al-Munawwarah

Rabu, 19 Dzulqo’dah 1439 H / 1 Agustus 2018

Kenalilah Ladangmu, kawan..

Bismillaah

 

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah..

Ketahuilah bahwa Allah Rabb mu adalah Tuhan Yang paling adil

Yang paling tau apa yang engkau butuhkan dan inginkan

Serta apa apa yang baik untukmu dan apa yang buruk untukmu

Dia adalah Robb yang Maha tahu,

Apa yang akan terjadi di masa depan

Apa yang telah terjadi dalam heningnya sejarah

Apa yang tersurat jelas oleh manusia

ataupun yang tersirat tak terjangkau oleh pikir mereka

 

Allah Maha Tahu

Selalu ingat bahwa Allah Maha Tahu

Allah tahu bahwa terkadang engkau ingin banyak beramal

berkontribusi untuk negri dan umatmu

memperbaiki sana sini yang kau rasa salah

membenahi pola pikir yang kau rasa melenceng

 

Maka saudara saudariku

Engkau pun perlu tahu..

Bahwa Allah telah ciptakan untuk setiap orang ladang mereka

Ladang beramal

Ladang menuju surga masing masing

Ada ladang untukmu maka kenalilah ia

Jangan selalu melihat ladang orang lain lalu merasa iri dan dengki

Jangan selalu melihat rerumputan tetangga

Karena ia pasti kan terlihat lebih hijau

Padahal bila engkau mau

Engkau pun bisa menghijaukan rumputmu

dengan caramu sendiri

Mungkin bukan bagianmu membantu orang orang faqir dengan materi

Atau membantu jayanya islam dengan waqafmu

Mungkin bukan bagianmu pula berbicara di podium lalu menyihir orang orang dengan perkataanmu

Lalu mereka berbondong bondong beramal sholih dan berbuat ihsan karena rangkaian kalimatmu

Tak usah bersedih, kawan

Yakinlah bahwa Allah telah ciptakan ladang untukmu

Bila belum juga kau temukan, maka carilah!

Siapa sangka bahwa mungkin baktimu pada orangtuamu lah yang dapat mengantarmu ke surga

Atau senyum yang tak pernah lepas dari bibirmu lah yang membuatmu dicintai banyak orang

Atau hatimu yang suci dan tak pernah mendendamlah yang membuatmu menjadi dekat pada Robb mu,

Lalu, untuk apa bersedih?

 

Berkontribusilah untuk umat, untuk islam, untuk negaramu dalam kapasitas yang tepat

Jangan pernah tertipu oleh kuantitas

Fokuslah pada kualitas

Fokuslah pada ladangmu

Jangan sekali kali melirik ladang orang lain bila yang terjadi setelah itu hanyalah kemarahan kepada takdir Allah dan timbulnya penyakit – penyakit hati

 

Saudara saudariku

Janganlah bersedih

Banyak jalan menuju surga…

 

WaAllahu a’lam bisshowab

 

 

Indonesia, 12 Ramadhan 1439 H

 

 

 

 

 

 

 

Sebelum Maut Menjemput…

Bismillaah..

Hari ini, sepulang kuliah, hati saya berdebar tak karuan, perasaan saya campur aduk, mata saya ingin menangis tapi entahlah, udara yang terlalu dingin dan kerumunan orang ramai di sini melarang air mata saya untuk keluar.

Guru saya, hari ini menyampaikan sebuah hadits, yang sebenarnya sudah sering saya dengar, terngiang ngiang di telinga saya, bahkan sampai ke tahap saya sudah hafal hadits tersebut hanya karena sering mendengarnya, bukan karena saya hafalkan dengan sengaja. Hadits itu adalah perkataan kekasih saya yg tercinta; Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah (bacalah) sebagaimana engkau di dunia mentartilnya (membacanya) ! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).

Tetapi, alasan hati saya terenyuh setelah mendengar hadits ini, adalah cerita yang disampaikan oleh guru saya, terjadi pada dirinya sendiri…

Pada suatu hari, beliau menyampaikan sebuah kajian di sebuah tempat di Kota Madinah, kemudian beliau menyebutkan hadits ini, menjelaskan kepada para jemaah dengan gaya bicaranya yang sangat saya sukai, menyentuh, dari hati ke hati, membara, dan banyak lagi yang tak bisa saya ungkapkan di sini. Saya yakin, saat itu, para jemaah tersentuh hatinya sebagaimana biasanya beliau menyentuh hati saya dan teman teman dengan kalimat2 indahnya, menghidupkan jiwa yang mati di dalam diri kami, menyulutkan semangat belajar ketika datang kemalasan dan rasa kantuk.

Setelah kajian selesai, datang seorang ibu tua kepada beliau. Tua, renta. Umurnya kisaran 75 tahun. Bayangkan sekarang juga, ibu2 tua berumur 75 tahun. Bayangkan bagaimana lemah tubuhnya, keriput mukanya dan getaran tangan juga kakinya. Beliau datang, dengan hati yang tulus, semangat yang menggebu berkata kepada guru saya

” Wahai anakku, aku, ingin berada di tingkat yang tertinggi di surga itu, aku ingin bisa berada di sana, tapi, aku tidak bisa membaca alquran sama sekali”

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah..

Sebelum saya melanjutkan cerita ini, saya ingin saudara saudari para pembaca semua bertanya kepada diri sendiri, bertanya berapa umurku saat ini lalu tanyakan lagi, apa ada di dalam diriku semangat menghafal alquran dan semangat mencapai surga tertinggi  seperti yang dimiliki si ibu tua? Tanyakan dan simpan jawabannya.

Kemudian guru saya, bergegas pergi ke kantor beliau, mengambil sebuah tas yang isinya paket lengkap kaset murottal Syekh Al Minsyawi hafizhohullahu ta’ala (saat itu belum ada/belum tersebar alquran2 digital seperti sekarang), guru saya berikan kepada ibu tua itu, agar ibu tua itu bisa menghafal dengan kaset2 itu, karena beliau sama sekali tak bisa membaca alquran.

Ibu itu pulang, tentu dengan kebahagiaan yang teramat sangat, yang hanya dirasakan oleh orang orang yang bersih hatinya, yang merindu akan surga dan Robb nya ‘azza wa jalla, mulailah dari saat itu sang ibu tua menghafal, mendengarkan kaset pemberian guru saya setiap hari, menghafalkan 1 HALAMAN setiap harinya, menyetorkan nya kepada guru saya, kemudian duduk menghabiskan waktunya mengulang ulang hafalan di sisi guru saya

Yang terlewat saya sampaikan di awal adalah bahwa sang ibu tua sudah tinggal sendirian di rumahnya, karena anak2 nya sudah membangun bahtera mereka masing -masing. Sebelumnya, beliau hampir setiap hari menelpon anak-anaknya, menanyakan kabar mereka, meminta mereka mengunjunginya, menyampaikan bahwa beliau merindukan mereka dan sebagainya sampai hari hari dimana beliau mulai menghafalkan alquran, beliau melarang anak-anaknya untuk mengunjunginya kecuali di Hari Kamis dan Jumat, karena beliau tak mau waktunya banyak terbuang sebelum ajal menjemputnya. Karena dia punya tujuan, SURGA TERTINGGI.

Lihatlah bagaimana alquran memalingkan kita dari dunia.

Akan hilang sedikit demi sedikit kecintaan akan dunia bersama banyaknya ayat yang kita hafalkan. Sampai datang masanya kita memandang dunia dengan penuh kehinaan karena apa yang tersimpan di dalam dada jauh lebih mulia dibanding gemerlapnya dunia.

Singkat cerita, karena kesungguhan sang ibu tua dalam menghafal alquran, beliau dapat menyelesaikan hafalannya dalam waktu 2 tahun saja. Istiqomah dalam menghafal setiap harinya, mengulang hafalannya, memperbarui dan merevisi terus menerus niat beliau dalam menggapai surga, membuat Allah memudahkan beliau untuk menyelesaikan hafalannya. Bacaan beliau, jangan ditanya, mutqin, bersih dari kesalahan2, tidak kalah dari orang yang bisa membaca alquran dengan lancar.

Sebelum saya lanjutkan lagi, ingat2 lagi berapa umur ibu tua ini, dan kurangkan dengan umur anda. Setelah dapat selisihnya, bila tak timbul rasa malu, sepertinya ada yang perlu ditanyakan tentang hati anda.

Guru saya begitu terharu, sampai akhirnya meminta sang ibu berbicara di depan khalayak ramai bagaimana dia bisa menghafal alquran dalam waktu dua tahun saja, sang ibu berkata

“Wahai anakku, sungguh aku tidak mau berbicara di depan khalayak ramai kemudian dikatakan seorang hafizhoh alquran dan dipuji puji oleh manusia. Bukankah aku sudah katakan dari awal, seperti katamu wahai anakku, bahwa aku hanya ingin naik dan naik nanti di hari kiamat ke surga yang tertinggi”

Guru saya terus membujuk beliau, menyampaikan berbagai alasan, bahwasanya beliau ingin org lain pun melakukan hal yang sama seperti halnya si ibu, membagikan semangat beliau yang begitu segar di umur beliau yang telah hampir layu, guru saya ingin orang orang mengambil pelajaran, dari si ibu.

Dan akhirnya, dengan izin Allah, si ibu menyetujuinya, kemudian ditentukanlah tempat dan tanggal pertemuan tersebut..

Pada hari yang ditentukan, setelah guru saya memberikan sedikit muqoddimah dan nasehat, dengan perasaan gembira dan rindu yang mendalam, guru saya memanggil nama si ibu tua, dengan penuh harapan bahwa kebaikan yang banyak akan mengalir di kota madinah, akan tumbuh penghafal penghafal alquran dari kalangan muda dan tua, karena saya yakin siapapun yang melihat ibu tua ini akan tersulut semangatnya untuk menghafal alquran, saya sangat yakin.

Namun apa yang terjadi tak seperti yang diperkirakan, karena Allah yang Maha Mengatur lagi Maha Mengetahui, manusia berencana, namun keputusan ada di tangan – Nya..

Berdirilah seorang anak gadis, remaja, umurnya sekitar 15 tahun, padahal yang diharapkan berdiri adalah ibu tua berumur 75 tahun..dia berkata, di depan para jemaah

“Wahai ustadzah…sesungguhnya nenekku, telah meninggal, dua hari yang lalu”

Allahu Akbar

Semua terdiam, guru saya, para jemaah, dan tentunya kami semua, yang mendengar cerita itu hari ini, ada yang tertunduk, ada yang sudah menangis tersedu sedu, ada yang termenung, ada yang sibuk mencari tissue di tasnya, adapun saya, tak henti hentinya mengucap kalimat takjub, tangan saya dingin, hati saya menangis dan teriris, bukan karena sang ibu sudah meninggal dunia, atau karena sang ibu tak jadi berbicara di depan orang ramai, bukan sama sekali, yang membuat saya begitu sedih dan terharu, adalah bagaimana Allah menginginkan kebaikan untuk beliau di sisa sisa hidupnya. Bagaimana Allah mengantarkan beliau untuk mendatangi majelis guru saya di hari itu, bagaimana Allah menggerakkan hati beliau untuk bisa menghafal alquran. Bagaimana Allah membuat beliau istiqomah. Bagaimana Allah timbulkan kecintaan beliau kepada Al-quran..Itu membuat saya berpikir, Bagaimana dengan saya? Apakah Allah menginginkan kebaikan untuk saya? Ada di mana saya nanti di hari kiamat?

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah

Percayalah, selalu ada jalan menuju kebaikan

Selalu ada jalan menuju surga Allah

Tidak ada tempat ketiga di akhirat nanti, bila kita tak bisa menggapai surga-Nya maka sudah jelas kita akan berada di mana, wal ‘iyaadzu billah

Selalu ada jalan apabila kita mau berjuang

Tak ada yang tak mungkin

Umur dan kesibukan bukan penghalang untuk menghafal Al-Quran

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, diutus ketika beliau berumur 40 tahun, dari situ wahyu turun dan beliau mulai menghafalnya, begitu pula para sahabat, menghafal alquran di umur mereka yang telah senja

Tak ada kenikmatan lain selain ketika Allah memilih kita sebagai keluarga dan orang-orang terdekat-Nya. Siapa keluarga Allah? Merekalah orang- orang yang berjalan di atas bumi dan Al-Quran tersimpan di dalam dada mereka.

Mulailah

Kita tak tau kapan nafas kita akan habis, jantung kita berhenti berdetak, bisa jadi satu tahun lagi, satu bulan lagi, satu minggu lagi, satu hari lagi, atau bahkan tepat setelah kita membaca tulisan ini….

Mari bangun dari tidur yang panjang ini, saudara saudariku yang kurindukan karena Allah..

Semoga Allah mengumpulkan kita di SURGA yang TERTINGGI, dengan suara aliran sungai dan udara sejuk serta pepohonan hijau, berkumpul dan tertawa bahagia, bersama.

Uhibbukum Fillah….

Madinah Al-Munawwarah,

12 Jumadal Akhir 1439 H

 

 

Antara Harapan dan Kecewa

bismillah..

 

Aku pernah menikmati senja

Aku pernah mengagumi purnama

Lalu aku jatuh cinta

dan berharap mereka kekal usir sepi yg tak sirna

namun,,

mereka pergi

menyisakan kecewa tanpa basa basi

lalu mereka datang kembali

dan aku,

ntah bodoh atau lupa akan sakit yang kurasa

kembali jatuh cinta dan berharap

kemudian terulang lagi kecewa yg pernah hinggapi rasa

Saudara saudariku yang kucintai karena Allaah..

Kehidupan selamanya tak akan luput dari sebuah impian, secercah harapan, setumpuk keinginan, segudang cita cita, dan se se yang lain yang tersimpan dalam hati seorang hamba. Bohong ketika seseorang berkata bahwa dia tak punya impian dan cita-cita, atau dia berargumen bahwa hilang sudah harapannya untuk hidup karena tak satupun hal yang dia inginkan berjalan sesuai rencananya. Setidaknya, sekurang-kurangnya, di dalam dadanya masih ada hati yang terus bergejolak menginginkan kebahagiaan, menginginkan kehidupan yang nyaman, dimana hatinya terasa tentram dan jiwanya merasa damai.

Lalu mulailah gejolak hati itu mencari dimana dia bisa temukan apa yang diinginkannya, ada manusia yang dengan sadar bergerak mencarinya, ada pula yang di bawah alam sadarnya tanpa rencana apa apa terus berjalan mencoba mencari dimana bisa dia dapatkan keinginan hatinya. Entah itu pekerjaan, pendidikan, percintaan, persahabatan, kesuksesan, ketenaran, uang, pamor, harga diri, jabatan, kebebasan, kekayaan, atau sebutlah apa saja yang manusia harapkan dari dunia ini.

Saat itu, saat manusia sedang mencari, kebingungan entah dimana tempat yang sebenarnya dia tuju, dia akan dihadapkan pada bermacam macam pilihan, atau sebutlah, bantuan.

Ketika si faqir mencari pendapatan, datang padanya seorang derma menawarkan pinjaman. Tanpa bunga.

Ketika si pengangguran mencari pekerjaan, tertuju matanya pada ‘butuh lowongan pekerjaan’

Ketika si lajang sedang mencari cinta, datang wanita cantik yang ketuk pintu hatinya

Ketika si kakak yang baru tamat SMA hampir putus asa, karna rasanya tak satupun PTN yang akan menerimanya, dikejutkan dia dengan undangan kuliah di universitas luar negara

Ketika si pemalu dan si kurang pergaulan berusaha di terima di lingkungannya, namun tetap saja tak ada yang mau dekat dengannya, tiba tiba datang si murah senyum dan si yang disukai oleh banyak orang mengajaknya ngobrol, bercanda, dan bermain

Masih banyak ketika dan tiba tiba  lain yang terjadi di dunia ini, siang dan malam, setiap orang berharap, lalu mendapatkan harapannya, lalu percaya,  lalu kecewa, lalu putus asa, kemudian berharap lagi, dan kecewa lagi.

kecewa

ya, kita tak tau bagaimana akhir cerita si faqir tadi, si pengangguran tadi, si pencari cinta tadi, si pemalu tadi, entah bagaimana akhir cerita mereka, tapi tak ada yang menjamin bahwa mereka tak diberi harapan palsu.

Sama mungkin seperti cerita kita, saya dan anda. Pernah berharap dan terlanjur percaya, kemudian dikecewakan.

Saudara saudariku yang kusayangi karena Allaah..

Begitulah skema kekecewaan dalam hidup, kenapa kecewa? Karena saya pikir kecewa merupakan salah satu perasaan paling menyakitkan dalam kehidupan seorang hamba. Bahkan terkadang lebih menyakitkan dari kesedihan. Karena kecewa biasanya berujung kemarahan, dendam dan putus asa.

Manusia terus berharap dan berharap pada manusia, pada rekan kerjanya, pada teman sejawatnya, pada pasangan hidupnya, bahkan pada orang tua dan keluarganya.  Tak ada salahnya berharap, tapi ada satu hal yang harus diingat, bahwa manusia adalah makhluk pemberi harapan palsu..

Mungkin bukan maksud awalnya memberikan kita harapan palsu. Tidak sama sekali. Tetapi, entah ada kejadian apa yang terjadi di dalam hidupnya, sehingga dia mengenyampingkan kita dan memprioritaskan egonya, padahal tadinya kita adalah prioritas, sehingga kita percaya kepadanya dan kemudian tiba tiba kepercayaan itu sirna, sirna bersama sirnyanya purnama di waktu fajar. Karena tak menutup kemungkinan, orang yang tempatnya paling spesial di hati kita sekali pun, bisa. Bisa mengecewakan kita.

Bahkan lihatlah diri kita sendiri, mungkin adalah salah satu dari pemberi pemberi harapan palsu itu.

Rasanya tak perlu dijelaskan panjang lebar bagaimana harapan palsu itu menghancurkan kepercayaan dan menumbuhkan kekecewaan, menjelaskannya hanya akan memperjelas perasaan yang tak ingin kita perjelas.

Ali bin abi Tholib pernah berkata (atau seorang sahabat/tabi’in) :

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”

Saudara saudariku yang kurindukan karena Allaah..

Kalau manusia adalah pemberi harapan palsu, maka mulailah untuk pergi dan berlari. Tinggalkan berharap terlalu tinggi pada manusia dan berharaplah pada satu satunya Pemberi harapan pasti. Bukan palsu. Ada yang ketika kita berharap tak akan pernah mengecewakan. Ada yang ketika kita percaya tak pernah mengkhianati. Ada.

Dialah yang membuatmu sampai sekarang tetap hidup dalam keadaan sehat

Dialah yang membuatmu tetap tersenyum walau hatimu tak seindah senyummu

Dialah yang membuat raut wajahmu bahagia walau di matamu ada air mata yang terbendung

Dialah satu satunya yang mengerti di saat tak ada satupun makhluk di bumi ini yang mengerti apa yang kau rasa

Dialah yang selalu dan sampai kapanpun menyayangimu walau terkadang engkau lupa terhadap-Nya..

Ya..engkau masih ada Allah yang menunggu segudang harapanmu dari atas langit ketujuh dan tak akan pernah mengecewakanmu..

Karena bila harapan itu terjadi dalam hidupmu, maka engkau tau bahwa Allah telah mengabulkan seluruh pintamu

Namun apabila engkau tak jua lihat harapan itu berubah jadi kenyataan, engkau pun tau bahwa Allah siapkan sesuatu yang lebih indah dari harapan tersebut, atau Allah tangguhkan dia di waktu yang lebih indah dari yang engkau rencanakan..

Kita sibuk dengan perasaan kita dan lupa bahwa kita melalaikan hak hak Allah. Padahal perkaranya akan jadi gampang apabila kita menengadahkan tangan kepada-Nya. Allah bahagia dengan banyaknya permintaan. Manusia kesal dengan banyaknya permintaan. Allah menunggu kaduan dan impian. Manusia menunggu berhentinya kaduan dan impian. Lalu kita manusia dengan bodohnya memilih manusia dan meninggalkan Allaah ?!

Padahal bila Allah telah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadi pendengaran yang hamba tersebut mendengar dengannya, penglihatan yang hamba tersebut melihat dengannya, kaki yang hamba tersebut melangkah dengannya, lalu apakah mungkin Allah akan menyia nyiakan permintaan hamba tersebut?

Dan yang terpenting

Allah mampu atas segala sesuatu

Hal yang mustahil bisa menjadi nyata

Hal yang tak mungkin bisa menjadi sebab

Manusia tak mampu kecuali bila Allah izinkan

Langsung saja minta pada yang mampu atas segala sesuatu. Bila kita berakal.

Saudara saudariku…

Berharaplah pada Allah saja

memintalah kepada-Nya

menangislah

tersungkurlah

meraunglah

karena Allah menunggu dan bahagia atas itu semua

karena Allah adalah Pemberi harapan pasti

Tinggalkanlah manusia

tak ada yang perlu dibanggakan dari manusia

karena manusia hanyalah makhluk pemberi harapan palsu

disengaja ataupun tidak…

berwudhulah

ambil sajadah

sholat dua rokaat

dan mohon pada Allah apa saja yang engkau inginkan…

Selamat mencoba

waAllahu a’lam bisshowab

Madinah Al Munawwarah,

Selasa, 7 Dzulhijjah 1439 H

12:44 p.m

Amal Jariyah

bismillah

Ukhti fillah

Tentu semua kita pernah berkunjung ke rumah sakit.  Entah itu untuk berobat, sekedar check up, atau menjenguk orang-orang yang sedang sakit. Hawa rumah sakit adalah hawa yang khas, bau obat dan bahan kimia menjadi ciri pasti untuk mendeskripsikan bagaimana tidak mengenakkannya harus terkungkung di rumah sakit. Belum lagi jarum suntik atau pisau pisau aneka rågam yang tersimpan dalam laci laci para dokter. Pandangan kita selalu akan tertuju pada wajah wajah manusia yang memelas menahan kesakitan, atau telinga kita yang tak lepas dari tangisan anak anak yang belum paham bagaimana mereka harus menahan rasa sakit yang mereka rasakan. Ya, begitulah rumah sakit.

Ketika menjenguk saudara/kerabat/sahabat yang sedang sakit, pernahkah terpikir siapa yang akan menjenguk saya nanti bila saya sakit? Adakah yang akan ingat dengan saya? atau saya haya akan terbaring kaku sendirian di dalam ruang rumah sakit?

Pernahkah terpikir ketika menyolati jenazah tentang siapa yang akan menyolati kita nanti bila kita telah tiada? Akankah ada tangis sedu di samping jasad kita, atau malah manusia senang atas kematian kita karena berkurang kejahatan yang mereka dapatkan.

Atau akankah manusia tetap mengingat kita ketika nanti kita telah tiada? Atau nama kita hanya akan hilang bersama hilangnya tulisan di nisan kita?

Ukhti fillah

Berbuatlah kebaikan di bumi ini, maka manusia akan senantiasa mengingatmu, walau engkau telah tiada. Tebarkanlah kedamaian di antara manusia hingga manusia tidak menyebut namamu kecuali mereka akan merasa tenang. Ajarkan kepada manusia ilmu ilmu bermanfaat yang engkau ketahui, sehingga manusia mengambil manfaat darimu, bukan mudhorot. Bantulah mereka yang membutuhkan semampumu, sesungguhnya manusia akan merasa senang ketika diperhatikan. Berkontribusilah dalam dakwah islam semampumu, ambil bidang yang kau kuasai dan perdalamlah. Maka namamu dengan izin Allah akan selalu dikenang.

Lihatlah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, 1400 tahun yang lalu beliau hidup. Namun nama beliau sampai saat ini terpatri dalam dada dada orang beriman, tak pernah sirna. Beliau diingat karena kebaikannya, akhlak mulianya, kejujurannya, oh sungguh beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam diingat hanya karena kebaikan.

Bertanyalah pada diri ini, siapakah yang akan mengingatmu setelah engkau mati?!

Bukan karena kita ingin dikenang dan dielu elukan dengan kebaikan. Bukan karena itu. Namun agar manfaat dari kebaikan yang kita lakukan dapat mengalir pahalanya sampai kapan pun, walau kita telah tiada. Agar ketika kita menghadapi fitnah kubur nanti, amalan amalan baik yang manfaatnya masih tinggal di dunia mengalir pahalanya buat kita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Ukhti fillah

Maka pikirkanlah mulai saat ini, amalan jariyah apa yang akan aku persembahkan.

 

26 jumadal ula 1436 H

Indonesia