Menjelang Pilpres

 

Kalau mau didengar, bicaralah menghadap langit,

Jangan merunduk menatap layar HP,

Berstatus rindu, berstatus galau.

Manusia pada dasarnya egois, mungkin kau lupa.

Kadang dibaca saja tidak,

parahnya lagi, cuma dibuka pada suasana awkward agar terlihat sedikit sibuk

Siapa peduli? Tak ada.

Tak ada yang akan benar-benar peduli.

Jangan tertipu. Manusia itu sering kali mengecewakan. Ingat itu.

Kalau ingin cerita, tengadahkanlah tangan

di sepertiga malam terakhir

di atas sejadah

Pasti didengar

Pasti diberi solusi.

 

 

*hubungan antara judul dan isi tulisan diserahkan pada pembaca yang in sya Allah budiman*

 

Iklan

Buat apa..

 

Buat apa berilmu kalau tak menambah  tawadhu’ mu ?

Buat apa berilmu kalau tak meningkatkan baktimu ?

Buat apa berilmu kalau sama kering air matamu ?

Buat apa berilmu kalau hilang takut pada Rabb mu ?

Buat apa berilmu kalau hanya menambah besar kepalamu ?

Menambah caci makimu ?

Menambah iri hatimu ?

Hai diri, ilmu itu untuk amalmu

Bukan hanya untuk isi kepalamu.

 

 

 

 

Mari Bergegas

 

Akhir -akhir ini waktu rasanya cepat sekali berlalu. Ngeri, rasanya kemaren baru ngumpulin semangat menyambut awal pekan, sekarang sudah kembali menghela napas lega menjemput weekend.

Begitu terus setiap pekan, dunia terasa begitu sibuk akhir-akhir ini, membuat setumpuk penyesalan buang buang waktu semakin menjadi-jadi.

Yang paling ditakutkan adalah bagaimana nantinya kita sampai di ujung perjalanan dunia, tanpa rasa. Tanpa sadar. Amalan sholih pun kabarnya samar. Membayangkannya saja, membuat dada bergetar.

Salah satu solusinya adalah sadari tiap kelakuan, sadari tiap pekerjaan. Beri tiap langkah niat, beri tiap nafas tujuan. Hindari jauh jauh kegiatan di bawah alam sadar, walau itu hanya satu kedipan mata.

Allah itu sungguh penyayang..dengan niat, tidur pun bisa jadi ibadah, makan pun bisa jadi pemberat timbangan, sebegitu dahsyatnya perkara niat. Amalan kecil bisa jadi besar, amalan besar sebesar jihad pun bisa jadi kecil, bila tanpa atau salah niat.

Mari menyusuri jalan panjang ini dengan satu tujuan, tujuan menuju Sang Khaliq, tujuan menuju surga-Nya. Dunia ini benar-benar singkat, kawan. Sampai kadang kita tak sadar bahwa umur banyak berkurang, yang lebih disayangkan, tanpa pencapaian. Banyak banyak beramal di dunia, karena di dunia kita tak kekal.

Teringat kata-kata salah seorang teman berkebangsaan sudan tadi malam, teman lama yang sudah lama tak bertemu, setelah tanya kabar dan berbagai muqoddimah temu rekan, kemudian cerita buru buru karena anaknya sudah lari kemana mana, dia bilang

 

“ana mungkin tinggal di Madinah gak lama, ana harus maksimalkan semua kesempatan yang ada, ana pengen belajar semuanya sebelum pergi dari Madinah”

 

sebenarnya sudah sering kali terdengar kalimat kalimat serupa, namun, malam tadi teman saya mengucapkannya dengan sangat menggebu-gebu. Semangat dalam kalimatnya benar benar merasuki jiwa saya. Membuat saya berpikir bahwa seharusnya kita punya motivasi yang sama untuk kehidupan dunia.

 

“kita hidup di dunia gak lama, kita harus maksimalkan semua kesempatan yang ada, ana harus lakukan amal sholih sebanyak mungkin sebelum pergi dari dunia”

 

Benar-benar, hidup di dunia benar-benar gak akan lama. Singkat dan akan berlalu begitu cepat. Waktu tak akan menunggu kita untuk beramal. Kita yang mengejar waktu, kita yang harus bangun mengisi setiap detik yang ada menuju ridho dan cintanya Allah. Kita yang harus bergerak, kita yang harus berhenti berleha-leha.

 

Surga itu mahal, bukan santai santai cara mendapatkannya.

 

 

“Dia sudah meni…”

Ada pelajaran-pelajaran penting di pulang syita’i kali ini. Pulang singkat yang qaddarAllah karena satu dua alasan harus mengorbankan sepekan penuh kbm kuliah. Salah satu di antaranya mungkin perlu diabadikan. Supaya tidak sirna ditelan masa begitu saja.

Namanya Gandung. Atau lebih sering saya panggil Mas Gandung. Bukan nama aslinya, tapi begitulah ia lebih dikenal. Mas Gandung ini teman main waktu kecil kalau saya pulang ke Semarang, ke kampung abi. Tempat minjem sepeda yang padahal waktu itu ketinggian, tapi ngakunya bisa bisa aja eh taunya jatuh di tengah jalan. Maklum, Mas Gandung punya perawakan tinggi besar, dulu. Sekarang, saya tak tau. Semenjak SMP saya sudah jarang sekali bertemu dia, bahkan hampir tidak pernah. Wajahnya bagaimana saja, sampai saat ini, saya lupa.

Sore itu, saya pulang dari kondangan saudara. Di jalan menuju rumah, tepatnya di gang menuju rumah kakek saya, tampak ibu Mas Gandung sedang menikmati udara sore Weleri bersama sang suami. Otomatis mobil berhenti, kaca jendela dibuka. Saya langsung menyalami beliau lewat kaca jendela. Tentu saja bersamaan dengan perkenalan singkat yang diutarakan nenek saya “Iki Intan, anae ***” karena beliau tak akan tau siapa yang sedang menyalaminya kalau tidak diperkenalkan. Saya juga jarang pulang ke kampung abi, sulit rasanya orang-orang untuk mengingat siapa saya.

“Ya Allah Intan…” kata beliau, raut wajahnya sulit dimengerti, tetapi daripada raut bahagia, itu lebih menunjukkan raut haru, kesedihan yang super dalam.

Kembali dulu ke hari – hari awal saya sampai di Semarang.

Seperti biasa, nenek serta anak cucunya ngumpul santai di ruang keluarga. Cerita-cerita. Walaupun terkadang diiringi susah payah translate jawa-indo oleh ayah saya. Punya darah keturunan jawa memang sama sekali tak menjamin bisa paham bahasa jawa.

Lalu sejenak hening sampai tiba tiba nenek saya nyeletuk

“Oiya Intan, Mas Gandung, sudah meni….”

Menikahlah yang ada di pikiran saya saat itu. Jeda seper sekian detik itu cukup untuk membuat saya sudah senyam senyum sendiri, memikirkan jenakanya Mas Gandung sekarang sudah punya istri, cukup juga untuk lidah saya bersiap siap mengucapkan kalimat selamat dan barakAllaah. Alhamdulillah kita sejak kecil selalu diajari tata krama agar tak menyela pembicaraan, walau sebahagia apapun, karena saat itu, saya bahagia, membayangkan Mas Gandung yang beda umurnya hanya satu tahun dengan saya itu sudah menikah, karena kalimat nenek saya saat itu belum selesai, saya menahan semua kebahagiaan itu.

“..nggal”

Ya Allah,

senyam senyum saya seketika hilang begitu saja, berubah menjadi genangan air mata yang malu-malu keluar. Kalimat kalimat selamat dan barakAllah tadi, tertelan lagi dengan paksa. Ah, apa ini? Sebegitu mudahnya Allah membolak balikkan keadaan, sebagaimana Dia dengan mudahnya membolak balikkan hati.

Itulah penyebab raut wajah ibu Mas Gandung sore itu begitu sedih. Bagaimana tidak? Bertemu saya tentu saja akan langsung mengingatkan beliau pada anaknya. Duh, saya teringat lagi wajah sendu itu..

Jeda singkat antara meni – kah dan meni – nggal benar benar punya pengaruh besar untuk saya, dan ternyata bukan hanya saya, ibu saya pun merasakan hal yang sama. Saya terhenyak cukup lama. Sembari berusaha keras mengingat rupa beliau, saya dan keluarga cepat-cepat mengucapkan kalimat istirja’. Lalu sayup sayup terdengar di telinga saya, kalau Mas Gandung rohimahullah meninggal karena kecelakaan tunggal. Livernya tak bisa diselamatkan.

Satu hal yang mendorong saya memutuskan untuk menulis cerita ini, adalah perubahan emosi saya yang begitu drastis saat menyimak perkataan setengah lengkap nenek saya. Bagaimana kabar menikah akan membuat saya begitu bahagia, lalu bagaimana kebahagiaan itu seketika sirna, bahkan bukan hanya sirna, namun juga berubah menjadi emosi sebaliknya, kesedihan. Lalu membuat kalimat-kalimat selamat tadi berubah menjadi beribu petuah dari diri sendiri untuk diri sendiri supaya intropeksi diri, karena kematian tak melihat umur sama sekali. Tak melihat kamu, sudah menikah atau belum. Sudah berkeluarga atau belum. Yang akhirnya membuat saya juga berpikir, bahwa lebih baik mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menghadapi kematian daripada hanya memantaskan diri untuk dipertemukan dengan si dia.

Saya jadi merasa istilah memantaskan diri untuk menikah itu begitu kecil di hadapan kalimat memantaskan diri menyambut kematian, mengahadap Sang Khaliq.

Bukan tak boleh, malah dianjurkan, tapi ada hal penting juga ada hal sangat penting. Pantaskan diri untuk menyambut kematian, soal memantaskan diri untuk bertemu si dia, in sya Allah bakal ngikut.

Euforia menikah jangan sampai membuat kita lupa ada satu hal yang lebih pasti dari berkeluarga.

Ada satu hal yang sudah menunggu, namun sering kali dilupakan.

Bersiaplah untuk kematian, karena dia tak pernah pandang buluh.

Lewat Mas Gandung, Allah menyadarkan saya akan hal itu.

Menyadarkan karena sejatinya saya tau bahwa kematian itu pasti, namun..sering kali lupa dan lengah.

Semoga cerita Mas Gandung tidak hanya menyadarkan saya, namun juga pembaca sekalian, saudara saudari seiman yang in sya Allah budiman…

Ketika “Jangan Pencitraan” jadi Alasan untuk Pamer Dosa

 

“Alah jangan pencitraan !”
“Munafik ah! apa adanya aja, jangan sok baik!”
“Gak usah sok alim kalau aslinya bobrok juga!”

Kalimat-kalimat di atas tentu sudah tak asing lagi terdengar di telinga. Entah itu tertuju pada diri sendiri, atau hanya lewat terdengar oleh telinga, atau yang lebih parah ketika kalimat-kalimat tadi keluar dari lidah kita sendiri.

Selama ini, orang-orang menganggap kalimat “pencitraan” itu kalimat yg bermakna negatif. Yang punya arti kurang bagus. Artinya seseorang yang disifati suka pencitraan adalah orang orang yang sok baik, cari muka, atau bahasa kasar anak-anak zaman sekarang, munafik.

Tidak semutlak itu pencitraan punya konotasi buruk. Apalagi kalau konotasi buruk pencitraan itu mengantarkan pada menghalalkan pamer dosa kemana mana. Alasannya, supaya gak pencitraan. Menurutnya lebih baik sama bobrok luar dalam daripada harus baik di luar, jelek di dalam.

Bobrok luar dalam = 2 kejelekan
Bobrok dalam baik luar = 1 kejelekan

Darimana datangnya 2 kejelekan lebih baik daripada satu kejelekan?

Pencitraan itu gak salah, selama kita tidak menyengajakan keburukan kemudian merasa aman dan pura pura baik supaya aman dari cibiran atau makar manusia. Ini sama seperti orang munafik yang menyembunyikan kekafiran dengan sengaja kemudian menunjukkan keimanan agar darah dan harta mereka aman.
Atau ketika pencitraan diartikan sebagai sombong, ingin dilihat orang dan jadi pusat perhatian, ini juga salah.

Tapi mengartikan pencitraan sehingga timbul akibat membolehkan pamer dosa itu tidak benar sama sekali. Manusia memang terkadang lebih sulit berbuat dosa di tengah-tengah orang ramai. Ketika dia sadar akan hal itu, jangan pula mencoba memamerkan dosa yang dilakukannya sendiri dengan dalih biar gak pencitraan. Itu salah besar.

Malah agama dengan jelas melarang kita untuk mencerita ceritakan dosa dan aib masa lalu, artinya kita memang dianjurkan untuk menyimpan dosa-dosa kita, bukan malah mengumbarnya.

Ketika ada yang bilang “Jangan pencitraan! Apa adanya aja!” Itu makar syaithon supaya kejelekan merajalela kemana mana. Semua orang pasti punya dosa, apalagi kalau dia sudah berkholwat dengan diri sendiri, macam macam yg bisa dia lakukan. Bahkan para alim ulama pun punya dosa, apabila koidah jangan pencitraan ini diterapkan pada mereka, kepada siapa lagi manusia akan beruswah???

Tak ada salahnya ingin terlihat baik, itu lebih baik daripada ingin terlihat buruk. Setidaknya ketika kita terlihat baik di mata manusia, mereka bisa jadi pundi2 pahala buat kita ketika mereka meniru kebaikan kita. Daripada pamer kejelekan yang kemudian akan mengantarkan kita ke jurang kehancuran abadi ketika mereka melakukan keburukan yg kita lakukan.

Jadi kalau ada yang bilang
“Jangan pencitraan”
“Jangan sok alim”
Senyumin aja sembari mendoakan kebaikan untuk bersama.

 

Madinah Al-Munawwarah

17 Dzulhijjah1439 H

Jangan Merasa Aman

(mencoba menjawab pertanyaan ; si Fulan maksiatnya banyak, tapi hidupnya enak enak aja )

Jangan merasa aman kalau setelah mengerjakan dosa, Allah tidak tegur. Jangan juga merasa aman kalau setelah melakukan maksiat tidak ada musibah yang datang. Atau merasa terjamin begitu saja kalau istighfar dosanya pasti hilang. Emang, siapa yang jamin?

Karena sebenarnya, maksiat yang mengundang maksiat lain itu adalah bentuk azab dari Allah. Maksudnya? Ya, kalau misalnya si A melakukan maksiat 1, mendengarkan musik misalnya, kemudian melakukan maksiat 2, mendengarkan musik lagi + nonton film2 yang mamerin aurat yang gak seharusnya diliat, terus melakukan maksiat 3 maksiat 4 maksiat 5 begitu seterusnya, tapi hidupnya tetap enak, adem ayem, duit masih ngalir aja, keluarga semua sehat wal ‘afiyat, pendidikan dan urusan pasangan lancar selancar jalanan Jakarta kalau lagi ‘idul fitri, perlu disadari kalau itu adalah bentuk akibat terburuk dan termengerikan dari melakukan sebuah maksiat, terseretnya maksiat maksiat lain akibat dari maksiat pertama yg dilakukannya tadi.

Singkatnya, hukuman dari sebuah maksiat itu sebenarnya adalah maksiat selanjutnya, sebagaimana hadiah dan ganjaran dari sebuah ibadah adalah ibadah selanjutnya.

Jadi, kalau ada seseorang yang berbuat maksiat setelah itu Allah kasih dia cobaan atau ujian karena maksiat dia tersebut, menyadarkan dia untuk bertaubat dari maksiatnya maka orang itu harus bersyukur sebanyak banyaknya walaupun mungkin ujian yang Allah kasih terasa berat, tapi itu akan jadi lebih baik daripada Allah biarkan dia ada di lubang maksiat yang super duper mengerikan.

Sebaliknya, kalau ada orang yang beribadah, sholat misalnya, tapi habis sholat masih apel sama lawan jenis, dia harusnya waspada dan bertanya-tanya ‘apa ibadah sholat saya diterima sama Allah atau gak?’ karena seharusnya ibadah itu akan mengundang ibadah-ibadah lainnya, bukan stuck di situ aja. Kalau sholat jalan, maksiat juga jalan, berarti ada yang harus dipertanyakan dengan sholatnya.

Allah juga sudah ingatkan di dalam Alquran kalau orang yang berbuat maksiat akan dihukum dengan maksiat yang selanjutnya, di surat Al-Baqoroh ayat 10 :

{ في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا و لهم عذاب أليم بما كانوا يكذبون }

{ di dalam hati – hati mereka ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit itu di hati mereka dan bagi mereka adzab yang pedih karena apa – apa yang mereka lakukan }

Jadi, jangan merasa aman kalau berbuat maksiat tapi masih dapat nilai 100 waktu ujian, hm,  habis itu dengan santainya bilang “maksiatnya gak ngaruh kok ke nilai ujian”. Itu omong kosong orang-orang yang gak paham hakikat dosa. Karena dosa dosa selanjutnya yang dia kerjakan sambil ‘merasa aman’ itulah sebenarnya hukuman yang Allah turunkan buat dia !

Madinah Al-Munawwarah

20 Dzulqo’dah 1439 H / 2 Agustus 2018 M

Kenalilah Ladangmu, kawan..

Bismillaah

 

Saudara saudariku yang kucintai karena Allah..

Ketahuilah bahwa Allah Rabb mu adalah Tuhan Yang paling adil

Yang paling tau apa yang engkau butuhkan dan inginkan

Serta apa apa yang baik untukmu dan apa yang buruk untukmu

Dia adalah Robb yang Maha tahu,

Apa yang akan terjadi di masa depan

Apa yang telah terjadi dalam heningnya sejarah

Apa yang tersurat jelas oleh manusia

ataupun yang tersirat tak terjangkau oleh pikir mereka

 

Allah Maha Tahu

Selalu ingat bahwa Allah Maha Tahu

Allah tahu bahwa terkadang engkau ingin banyak beramal

berkontribusi untuk negri dan umatmu

memperbaiki sana sini yang kau rasa salah

membenahi pola pikir yang kau rasa melenceng

 

Maka saudara saudariku

Engkau pun perlu tahu..

Bahwa Allah telah ciptakan untuk setiap orang ladang mereka

Ladang beramal

Ladang menuju surga masing masing

Ada ladang untukmu maka kenalilah ia

Jangan selalu melihat ladang orang lain lalu merasa iri dan dengki

Jangan selalu melihat rerumputan tetangga

Karena ia pasti kan terlihat lebih hijau

Padahal bila engkau mau

Engkau pun bisa menghijaukan rumputmu

dengan caramu sendiri

Mungkin bukan bagianmu membantu orang orang faqir dengan materi

Atau membantu jayanya islam dengan waqafmu

Mungkin bukan bagianmu pula berbicara di podium lalu menyihir orang orang dengan perkataanmu

Lalu mereka berbondong bondong beramal sholih dan berbuat ihsan karena rangkaian kalimatmu

Tak usah bersedih, kawan

Yakinlah bahwa Allah telah ciptakan ladang untukmu

Bila belum juga kau temukan, maka carilah!

Siapa sangka bahwa mungkin baktimu pada orangtuamu lah yang dapat mengantarmu ke surga

Atau senyum yang tak pernah lepas dari bibirmu lah yang membuatmu dicintai banyak orang

Atau hatimu yang suci dan tak pernah mendendamlah yang membuatmu menjadi dekat pada Robb mu,

Lalu, untuk apa bersedih?

 

Berkontribusilah untuk umat, untuk islam, untuk negaramu dalam kapasitas yang tepat

Jangan pernah tertipu oleh kuantitas

Fokuslah pada kualitas

Fokuslah pada ladangmu

Jangan sekali kali melirik ladang orang lain bila yang terjadi setelah itu hanyalah kemarahan kepada takdir Allah dan timbulnya penyakit – penyakit hati

 

Saudara saudariku

Janganlah bersedih

Banyak jalan menuju surga…

 

WaAllahu a’lam bisshowab

 

 

Indonesia, 12 Ramadhan 1439 H